oleh

Si Jago Merah Menghanguskan Fasilitas Tangki Minyak Lebanon

Kebakaran besar terjadi di tangki penyimpanan bahan bakar di dekat pembangkit listrik Zahrani di Lebanon selatan. Seperti dilaporkan RT, Senin (11/10/2021), kebakaran terjadi hanya beberapa hari setelah negara itu mengalami gelap gulita setelah fasilitas yang sama ditutup.

Saluran TV Al Jadeed melaporkan tentara Lebanon bergegas untuk mengevakuasi daerah itu pada Senin (11/10) karena kekhawatiran bahwa api dapat memicu ledakan ketika petugas pemadam kebakaran bergegas untuk mengendalikan api. Pemerintah Lebanon kemudian mengumumkan di Twitter bahwa api telah dapat dipadamkan.

Baca Juga  UID-GTG Salurkan 2000 Ton Oksigen Cair

Lalu lintas di Jalan Raya Al-Zahrani juga terputus di kedua arah akibat pembatasan Covid dan dialihkan ke jalur lain.

Rekaman yang diunggah ke Twitter menangkap awan asap hitam tebal dan api yang mengepul keluar dari fasilitas tersebut.

Kebakaran itu terjadi hanya sehari setelah kementerian energi negara itu mengatakan bahwa listrik telah dipulihkan ke tingkat sebelum padam. Angkatan Darat Lebanon mengisi kembali pembangkit listrik Zahrani dan Deir Ammar dengan 6.000 kiloliter minyak gas.

Baca Juga  Vaksinasi Drive Thru di Jalan Tol Jagorawi Diselenggarakan Oleh Bais TNI dan PT Jasa Marga

Karena kekurangan bahan bakar, dua pembangkit listrik utama Lebanon, yang menyediakan 40% listrik Lebanon, terpaksa ditutup pada hari Sabtu. Penutupan membuat negara berpenduduk hampir enam juta jiwwa itu dalam kegelapan total.

Fasilitas telah kehabisan sumber daya karena pemerintah Lebanon yang kekurangan uang tidak memiliki mata uang asing untuk membayar pemasok energi. Kapal yang membawa gas dan minyak dilaporkan menolak untuk berlabuh di perairan Lebanon sampai pembayaran dilakukan dalam dolar AS.

Baca Juga  Hasil Pilihan gubernur Sumatra Barat Digugat Ke MK

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan bahwa Teheran siap membangun dua pembangkit listrik baru, satu di ibu kota Beirut, dan satu lagi di selatan negara itu, selama periode 18 bulan. Bantuan diberikan untuk Lebanon yang lumpuh secara finansial.

Krisis ekonomi Lebanon telah digolongkan sebagai salah satu depresi paling parah dalam sejarah modern. Satu studi PBB pada bulan Agustus menemukan bahwa hampir 80% penduduk Lebanon hidup dalam kemiskinan. (*/cr2)

Sumber: beritasatu.com

News Feed